Sejarah Jeneponto dari Sejarah Turatea kerajaan Binamu hingga penetapan hari jadi jeneponto

Sejarah jeneponto, sejarah Turatea ataupun sejarah kerajaan Binamu serta 2 kerajaan besar yang dulunya berada di jeneponto yaitu Kerajaan Arungkeke dan kerajaan Bangkala, ketiga sejarah kerajaan tersebut sebenarnya tidak lepas dari sejarah jeneponto itu sendiri. Namun, karena keterbatasan penulis dalam menyediakan data-data untuk ketiga kerjaan tersebut, penulis hanya akan membahas Sejarah kerajaan Binamu yang memounyai ikatan erat akan hari jadi Jeneponto.
Hari Jadi Kabupaten Jeneponto

Sejarah Kerajaan Binamu

Pada tulisan terdahulu diceritakan bahwa setelah persekutuan KARE di Turatea berhasil memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Gowa, dan setelah Kerajaan Binamu terbentuk berkat dari hasil kesepakatan dengan Sombayya Ri Gowa, maka persoalan yang tersisa tinggal satu, yaitu siapa kira-kira yang pantas memakai mahkota pertama Kerajaan Binamu.
Oleh karena itu, Kare Layu sebagai ketua dari tujuh persekutuan  ke-kare-an segera mengutus Boto Cabiri dan Boto Jombe untuk mencari calon raja sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Mula-mula mereka di suruh ke Boyong, setelah itu ke Balang, kemudian ke Tolo’ dan Rumbia, dan terakhir di Manynyumbeng.
Sesuai hasil penilaian para utusan, empat tokoh dari empat tempat yang didatangi pertama yakni Boyong, Balang, Tolo, dan Rumbia, tidak bisa menjadi Raja di Binamu karena caranya menghadapi tamu yang kurang bijaksana dan cenderung tergesa-gesa. Maka pilihan jatuh pada Gaukang Dg. Riolo, tokoh dari Manynyumbeng yang berbudi pekerti luhur, dermawan, berjiwa besar, agak pendiam, dan sabar dalam menghadapi setiap problema yang dihadapinya.
Setelah segala sesuatu yang berhubungan dengan acara pelantikan “kakaraengan” sudah dipersiapkan secara matang, maka dijemputlah Gaukang Dg Riolo di kediamannya untuk dibawa ke Layu menjalani prosesi pelantikan raja sesuai prosedur yang sudah disepakati. Hadir pula beberapa undangan dalam acara tersebut yakni Raja Gowa, Raja Luwu, Raja Suppa, dan Raja Bone, serta tokoh-tokoh dari tujuh persekutuan ke-kare-an di Turatea bersama rakyatnya. Acara pelantikan berjalan selama tujuh hari tujuh malam.
Sekedar diketahui bahwa Gaukang Dg Riolo sebenarnya adalah salah seorang keturunan dari Pari’ba Dg Nyento. Beliau putra dari anak Pari’ba yang kawin ke Manynyumbeng. Artinya, beliau tidak lain adalah salah seorang cucu Pari’ba selain cucu-cucunya yang lain yang tersebar di Boyong, balang, Tolo, dan Rumbia. Oleh karena itu, dilihat dari segi keturunan dan status sosial di Turatea, beliau memang pantas menduduki takhta Kerajaan Binamu, dan tentu saja didukung dengan sikap dan kepribadian yang luhur dan bijaksana.



Sejarah Jeneponto dari Sejarah Turatea kerajaan Binamu hingga penepatan hari jadi jeneponto
Foto-Foto peninggalan Sejarah Jeneponto
Setelah pelantikan Gaukang Dg Riolo usai, maka serta merta berakhirlah bentuk pemerintahan KARE di Turatea dan dimulailah pemerintahan Kerajaan BINAMU. Sebagai raja pertama, beliau diberi gelar “KARAENG LOMPOA RI BINAMU” (Maha Raja Binamu).
Sebagai langkah awal dalam pemerintahannya, beliau membentuk beberapa lembaga untuk mendukung kerajaannya diantaranya:
  • Lembaga Pertahanan Kerajaan (panglima perang): Daenta Bonto Tangnga
  • Lembaga Pengadaan Pangan (ekonomi): Daenta Balumbungan
  • Lembaga Kesejahteraan/Sosial: Gallarang Embo
  • Dewan Penasehat (Agama): Boto Cabiri
  • Dewan Hakim: Boto Jombe
Selain itu, Gaukang Dg Riolo juga mengadakan beberapa perubahan istilah, dari Daenta dan Gallarang menjadi Karaeng, tetapi tugas dan kedudukannya tetap sama. Seperti: Daenta Bonto Tangnga diubah menjadi Karaeng Bonto Tangnga, Daenta Bontoramba menjadi Karaeng Bontoramba, Gallarang Paitana menjadi Karaeng Paitana, dan sebagainya.
Kerajaan Binamu memiliki beberapa kerajaan bawahan (karaeng palili’), diantaranya:
  • Gallarang di Balang
  • Karaeng di Tolo’
  • Karaeng di Paitana
  • Karaeng di Empoang
  • Karaeng di Bontoramba
  • Karaeng di Balumbungan, dsb…
Untuk Kerajaan Arungkeke, Tarowang, dan Bangkala, ketiganya merupakan kerajaan tersendiri yang otonom sejajar dengan kerajaan Binamu di Butta Turatea. Mereka tidak saling membawahi tapi tetap saling berinteraksi dan saling berbagi karena faktor kesamaan bahasa, budaya, tradisi, dan adat istiadat satu sama lain.
Adapun  raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Binamu secara berturut-turut adalah sebagai berikut:
  1. Raja ke 1          : Gaukang Dg Riolo (memerintah tahun 1607 M-1631 M)
  2. Raja ke 2          : Bakiri Dg Lalang (memerintah tahun 1631 M-1660 M)
  3. Raja ke 3          : Paungga Dg Gassing (memerintah tahun 1660 M-1678 M)
  4. Raja ke 4          : Datu Mutara (memerintah tahun 1678 M-1696 M)
  5. Raja ke 5          : Lapalang Dg Masse (memerintah tahun 1696 M-1713 M)
  6. Raja ke 6          : Patakkoi Dg Ngunjung (memerintah tahun 1713 M-1731 M)
  7. Raja ke 7          : Jakkolo  Dg Rangka (memerintah tahun 1731 M-1747 M)
  8. Raja ke 8          : Pa’dewakkang Dg Lurang (memerintah tahun 1747 M-1763 M)
  9. Raja ke 9          : Ironggo Dg Bani (memerintah tahun 1763 M-1780 M)
  10. Raja ke 10         : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1780 M-1796 M)
  11. Raja ke 11         : Bebas Dg Lalo (memerintah tahun 1796 M-1814 M)
  12. Raja ke 12         : Badullah Dg Tinggi (memerintah tahun 1814 M-1834 M)
  13. Raja ke 13         : Palanrangi Dg Liu (memerintah tahun 1834 M-1852 M)
  14. Raja ke 14         : Patima Dg Sakking (memerintah tahun 1852 M-1869 M)
  15. Raja ke 15         : Itia Dg Ni’ni (memerintah tahun 1869 M-1884 M)
  16. Raja ke 16         : Mattewakkang Dg Jungge (memerintah tahun 1884 M-1900 M)
  17. Raja ke 17         : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1900 M-1911 M)
  18. Raja ke 18         : Langke Dg Lagu (memerintah tahun 1911 M-1921 M)
  19. Raja ke 19         : Ilompo Dg Radja (memerintah tahun 1921 M-1923 M)
  20. Raja ke 20         : Maggau Dg Sanggu (memerintah tahun 1923 M-1929 M)
  21. Raja ke 21         : Mattewakkang Dg Radja (memerintah tahun 1929 M-1946 M)
Demikian susunan raja-raja di kerajaan binamu mulai dari pertama kali terbentuk hingga berakhirnya kerajaan binamu itu sendiri.

Hari Jadi Jeneponto 

Penetapan Hari Jadi Jeneponto sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan waktu yang cukup panjang dan melibatkan banyak tokoh di daerah ini. Kajian dan berbagai peristiwa penting melahirkan beberapa versi mengenai waktu yang paling tepat untuk dijadikan sebagai Hari Jadi Jeneponto.

Kelahiran adalah suatu proses yang panjang, yang merupakan momentum awal dan tercatatnya sebuah sejarah Bangsa, Negara, dan Daerah. Oleh karena itu, kelahiran tersebut memiliki makna yang sangat dalam bagi peradaban manusia.

Jeneponto merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian selatan, tumbuh dengan budaya dan peradaban tersendiri seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman. Menyadari perlunya kepastian akan Hari Jadi Jeneponto, maka dilakukan beberapa upaya dengan melibatkan berbagai elemen di daerah ini melalui seminar –seminar yang dilaksanakan secara terpadu.

Dari pemikiran yang berkembang dalam pelaksanaan seminar tersebut, diharapkan bahwa kriteria yang paling tepat untuk menetapkan Hari Jadi Jeneponto adalah berdasarkan pertimbangan historia, sosio-kultural, dan struktur pemerintahan, baik pada masa pra dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia, maupun pertimbangan eksistensi dan norma-norma serta simbol-simbol adat istiadat yang dipegang teguh, dan dilestarikan oleh masyarakat dalam meneruskan pembangunan.

Selanjutnya, penelusuran tersebut menggunakan dua pendekatan yaitu tanggal, bulan, dan tahun menurut teks dan tanggal kejadiannya, serta pendekatan dengan mengambil tanggal-tanggal, bulan-bulan maupun tahun-tahun yang mempunyai makna-makna penting yang bertalian dengan lahirnya suatu daerah, yang dianggap merupakan puncak kulminasi peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi.

Adapun alternatif yang digunakan terhadap kedua pendekatan tersebut di atas yaitu:


  • Pertama:

    November 1863, adalah tahun berpisahnya antara Bangkala dan Binamu dengan Laikang. Ini membuktikan jiwa patriotisme Turatea melakukan perlawanan yang sangat gigih terhadap pemerintah Kolonial Belanda.

    Tanggal 29 Mei 1929 adalah pengangkatan Raja Binamu. Tahun itu mulai diangkat “Todo” sebagai lembaga adat yang refresentatif mewakili masyarakat.

    Tanggal 1 Mei 1959, adalah berdasarkan Undang-undang No. 29 Tahun 1959 menetapkan terbentuknya Daerah Tingkat II di Sulawesi Selatan, dan terpisahnya Takalar dari Jeneponto.


  • Kedua:

    Tanggal 1 Mei 1863, adalah bulan dimana Jeneponto menjalani masa-masa yang sangat penting yaitu dilantiknya Karaeng Binamu, yang diangkat secara demokratis oleh “Toddo Appaka” sebagai lembaga representatif masyarakat Turatea.

    Mundurnya Karaeng Binamu dari tahta sebagi wujud perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

    Lahirnya Undang Undang No. 29 Tahun 1959.

    Diangkatnya kembali raja Binamu setelah berhasil melawan penjajah Belanda. Kemudian tahun 1863, adalah tahun yang bersejarah yaitu lahirnya Afdeling Negeri-negeri Turatea setelah diturunkan oleh pemerintah Belanda dan keluarnya Laikang sebagai konfederasi Binamu.

    Tanggal 20 Mei 1946, adalah simbol patriotisme Raja Binamu (Mattewakkang Dg Raja) yang meletakkan jabatan sebagai raja yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Dengan Demikian penetapan Hari Jadi Jeneponto yang disepakati oleh pakar pemerhati sejarah, peneliti, sesepuh dan tokoh masyarakat Jeneponto, dari seminar Hari jadi Jeneponto yang berlangsung pada hari Rabu, tanggal 21 Agustus 2002 di Gedung Sipitangarri, dianggap sangat tepat, dan merupakan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan berbagai kesimpulan di atas, maka Hari jadi Jeneponto ditetapkan pada tanggal 1 Mei 1863, dan dikukuhkan dalam peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 1 Tahun 2003 tanggal 25 April 2003.

0 komentar